Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Apalah arti merdeka bila kita tak bisa menikmatinya dengan raga yang sehat?

Kemarin pagi, upacara memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75 tetap berlangsung di berbagai daerah dengan protokol kesehatan.  Presiden Jokowi melalui pidatonya di Istana Merdeka mengajak masyarakat untuk bangkit bersama melawan pandemi ini.

Di podium mewah itu Jokowi memupuk harapan. Namun di lapangan, kebijakan yang dikeluarkan tidak berpihak kepada sektor kesehatan seolah memandang nyawa hanyalah mainan. Di tengah gaung lagu kemerdekaan, seluruh bangsa Indonesia dihantui oleh risiko tertular wabah. Kurva yang selalu menanjak adalah bukti pemerintah telah gagal total dalam menghentikan penyebaran virus corona.

Lembaga legislatif juga sama saja. Dewan perwakilan yang terhormat malah sibuk membuat geger rakyat dengan pembahasan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja, RKUHP, dan tetek bengek lainnya.

Di tengah semrawut birokrasi penanganan corona, muncul secercah harapan. Beberapa hari yang lalu, Tim gabungan dari Universitas Airlangga, TNI AD, Badan Intelejen Negara, dan BPOM mengklaim telah menemukan obat virus corona. Kondisi saat ini, obat tersebut sedang berada pada tahap uji klinis.

Tak hanya itu, kerja sama antara Indonesia dengan Lembaga Eijkman dalam pembuatan vaksin COVID-19 yang bernama Merah Putih telah mencapai tahap kloning protein. Dalam hal ini vaksin Merah Putih berada di angka 30 persen sebelum siap di produksi masal.

Terlepas dari itu semua, bangsa ini telah melewati berbagai macam rintangan di masa lalu. Dahulu para pahlawan berguguran agar menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka. Sekarang, giliran kita untuk saling menjaga kemerdekaan dan kewarasan di tengah pandemi. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75. Semoga bangsa ini selalu merdeka, jiwa dan raga.

Oleh: Ananta Yudistira
Ilustrasi: Faiz Qadri

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp